Gue freelancer udah lima tahun lebih. Dan salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di grup-grup freelancer — entah itu grup desainer, penulis, atau developer — bukan soal klien yang telat bayar. Bukan soal portofolio. Tapi soal ini: "Main game itu buang-buang waktu nggak sih buat freelancer?"
Pertanyaan ini muncul terus, dan jawabannya nggak sesederhana "iya" atau "nggak". Jadi gue coba rangkum pertanyaan-pertanyaan yang paling sering gue dengar, plus jawaban yang menurut gue jujur — berdasarkan pengalaman gue sendiri, bukan teori motivasi dari buku self-help.
"Nggak apa-apa nggak sih main game pas jam kerja?"
Ini pertanyaan paling sering muncul, dan gue ngerti kenapa. Freelancer itu nggak punya bos yang ngeliatin layar kamu tiap lima menit. Jadi kadang rasa bersalah itu datang dari dalam sendiri.
Jawaban gue: tergantung gimana kamu mainnya. Kalau kamu main game pas lagi nunggu klien bales email, itu beda banget sama kamu main game tiga jam pas deadline besok pagi. Yang pertama itu istirahat mikro. Yang kedua itu prokrastinasi yang dibungkus alasan.
Baca juga: Main Game Murah Meriah vs Bayar Penuh: Pilih Mana buat Pemula?
Gue sendiri punya aturan simpel. Kalau ada task yang belum kelar dan deadline-nya hari ini, game cuma boleh dimainin setelah task itu beres. Titik. Nggak ada negosiasi sama diri sendiri, karena gue udah pernah kalah sama negosiasi itu dan hasilnya... ya, klien nanya "mana file-nya?" jam 11 malam.
"Bukannya main game itu bikin fokus gue rusak?"
Ini menarik, karena banyak yang percaya game merusak fokus. Padahal riset soal ini cukup campur aduk. Ada studi yang nunjukin game tertentu bisa ningkatin kemampuan fokus dan pemecahan masalah. Ada juga yang bilang main game berlebihan bikin atensi kamu pecah.
Yang gue rasain sendiri: masalahnya bukan game-nya, tapi cara kamu mainnya. Kalau kamu main sambil buka Twitter, sambil cek WhatsApp, sambil mikirin invoice yang belum dibayar — ya fokus kamu emang rusak. Tapi itu bukan salah game-nya. Itu multitasking, dan multitasking merusak fokus siapa pun, mau kamu main game atau nggak.
Yang gue lakuin sekarang: main game itu sesi terpisah. Nggak sambil kerja. Kalau gue mau main, gue main beneran. Kalau gue mau kerja, gue kerja beneran. Otak gue jadi lebih gampang pindah mode.
"Game apa yang cocok buat freelancer yang waktunya terbatas?"
Nah ini pertanyaan praktis yang jarang dijawab dengan jujur. Banyak rekomendasi game ngasih daftar game AAA yang butuh 60 jam buat tamat. Buat freelancer, itu mimpi.
Kalau waktu kamu terbatas dan nggak bisa janji main tiap hari, hindari game yang sifatnya "harus login tiap hari" kayak game mobile dengan daily quest, atau MMO yang butuh grinding. Game-game itu dirancang buat ngejar kamu balik terus, dan buat freelancer itu jebakan.
Yang lebih cocok:
- Game roguelike dengan sesi pendek — satu run 20-30 menit, bisa ditinggal kapan aja
- Game puzzle atau strategi turn-based — nggak butuh refleks, bisa dijeda
- Game single-player dengan save manual — kamu yang atur kapan berhenti, bukan game-nya
- Game co-op santai bareng teman — buat ngobrol, bukan buat kompetisi stres
Gue pribadi suka game yang bisa gue tinggalin tanpa rasa bersalah. Kalau gue harus kelarin satu match 45 menit dan klien tiba-tiba telepon, itu resep stres.
Tapi gimana kalau gue udah kecanduan?
Ini pertanyaan yang lebih berat, dan gue nggak mau nyepelein. Kalau kamu ngerasa main game udah mulai ganggu kerjaan, tidur, atau hubungan kamu sama orang lain — itu bukan lagi soal "cocok atau nggak buat freelancer". Itu udah soal kesehatan.
Nggak ada salahnya cari bantuan. Ngobrol sama teman, atau kalau perlu cari profesional. Gue kenal beberapa freelancer yang akhirnya pasang aplikasi pembatas waktu di PC-nya, dan itu nggak bikin mereka jadi orang lemah. Justru sebaliknya.
"Apa game bisa bantu karier freelancer gue?"
Ini pertanyaan yang jawabannya sering dibikin lebay. Ada yang bilang main game bikin kamu jago strategi, jago komunikasi, jago teamwork. Itu semua bener, tapi jangan sampai kamu pakai itu sebagai pembenaran buat main delapan jam sehari.
Game bisa ngasih kamu istirahat yang layak, dan istirahat yang layak itu bagian dari kerja yang layak.
Yang gue rasain: game bantu gue lepas dari layar kerja tanpa harus keluar rumah. Buat freelancer yang sering kerja sendirian di kamar, itu penting banget. Kamu butuh sesuatu yang ngasih otak kamu jeda, tapi tetap bikin kamu senang.
Selain itu, buat sebagian orang, game jadi ruang sosial. Freelancer itu rentan kesepian. Kalau main game bareng teman jadi satu-satunya interaksi sosial kamu minggu itu, itu tetap lebih baik daripada nggak ada interaksi sama sekali.
"Berapa lama idealnya main game buat freelancer?"
Gue nggak akan kasih angka pasti, karena tiap orang beda. Tapi gue bisa kasih patokan yang gue pakai sendiri.
Kalau kerjaan kamu lagi padat, main game itu bonus, bukan hak. Kalau kerjaan lagi longgar, kamu boleh main lebih lama. Yang penting: game nggak boleh jadi alasan kerjaan kamu molor, dan kerjaan nggak boleh jadi alasan kamu nggak pernah istirahat.
Gue biasanya main sekitar satu jam di hari kerja yang santai, dan bisa lebih lama pas akhir pekan. Tapi ada minggu-minggu di mana gue nggak main sama sekali karena proyek numpuk. Dan itu nggak bikin gue merasa jadi freelancer yang gagal.
"Jadi, main game itu boleh nggak buat freelancer?"
Boleh. Tapi dengan catatan.
Boleh kalau kamu udah kelarin kerjaan kamu. Boleh kalau kamu nggak pakai game buat kabur dari tanggung jawab. Boleh kalau kamu masih bisa tidur cukup dan bangun pagi. Boleh kalau kamu sadar kapan harus berhenti.
Freelancer itu pekerjaan yang butuh disiplin diri tinggi, dan disiplin diri bukan berarti nggak boleh senang-senang. Justru sebaliknya. Kalau kamu nggak pernah kasih otak kamu istirahat yang beneran, kualitas kerja kamu bakal turun pelan-pelan, dan kamu bakal bingung kenapa.
Jadi jawaban singkatnya: game bukan musuh produktivitas kamu. Kurangnya batasan yang jelas itu musuhnya. Dan itu berlaku buat game, media sosial, atau apa pun yang bikin kamu lupa waktu.
Kalau kamu freelancer dan kamu masih ngerasa bersalah tiap kali buka game, coba tanya ke diri sendiri: kerjaan hari ini udah beres belum? Kalau udah, ya udah. Main aja. Kamu udah kerja buat itu.